Saturday, March 10, 2012

Puisi Dari Sahabat

17 Agustus 2011

Dan malaikat pun iri..
Melihat sayapmu yang terus melebar..
Cahaya pagi yang menerpa..
Membuatnya makin indah bercahaya..
Buatlah Tuhanmu bangga..
Karena sayapmu menjadi naungan..
Naungan bagi orang-orang yang tak bertempat tinggal..

Angga Fauzian - Mesin '09

SEBUAH GELISAH TENTANG TEKNOLOGI

Malam ini saya tidak bisa tidur. Ini pasti gara-gara telah lebih dua minggu tak habis pikir : bahwa bangsa ini, sekadar punya kuda-kuda untuk mengambil alih teknologipun tak mampu. Ya, sekadar kuda-kuda. Tapi itu begitu penting. Saya ingat film The American Shaolin, bahwa ilmu pertama yang diajarkan di Biara Silat itu adalah kuda-kuda. Dan itu tiga tahun lamanya, hanya untuk kuda-kuda !!!

Tak habis pikir… lalu tak bisa tidur… Karena akhirnya saya berujung gelisah di tengah malam : bolehkah saya menggugat dan menghujat ? Bukankah saya hanya seorang psikolog yang tak berhak menjadi juri atas kompetensi atau impotensinya para teknolog kita ? Mungkin yang harus saya kutuk adalah keputusan saya untuk menerima tawaran survey tentang SDM IPTEK di dunia industri kita. Lalu survey “celaka” itu menghasut saya untuk menancapkan sebuah kesimpulan brutal : SDM IPTEK industri itu hampir-hampir tak ada !!!

Bah… nekad, menafikan segala ikhtiar puluhan tahun dari ribuan karyawan Research and Development (R&D) yang telah menguras rupiah dan pengorbanan yang tak sedikit. Baiklah… tapi, apa yang telah dihasilkan ? Saya hanya melihat para pekerja kreatif dan tukang-tukang berpengalaman yang berhasil merubah gelas berbibir bulat menjadi segi tiga. Apakah itu yang disebut sebagai SDM IPTEK ? Bukankah SDM IPTEK itu seharusnya adalah saintis dan teknolog yang menggunakan seluruh ikhtiar ontologis, epistemologis dan aksiologis untuk menggambarkan, menjelaskan, meramalkan, mengendalikan dan merekayasa gejala-gejala ilmiah ? Atau, mungkin saya yang tak mengikuti perkembangan, bahwa belakangan antara teknolog dan teknisi sebenarnya adalah barang yang sama. Bahwa antara implementator dan operator bukan lagi hal penting untuk dipilah. Entahlah…

Sebenarnya saya telah berusaha untuk salut dan berjuang untuk bangga. Lihatlah, nun di sana telah ada “SDM IPTEK” kita yang mampu merubah knalpot sepeda motor tetap bekerja baik di dalam genangan banjir. Di sudut yang lain saya mendecakkan kagum kepada sekelompok doktor yang telah menerbangkan besi ke langit. Namun entah kenapa, saya tiba-tiba saja kehilangan selera setelah tahu bahwa sang modifikator knalpot canggih itu ternyata bahkan tak mampu menciptakan sebatang knalpot paling generik sekalipun, sepenuhnya dari nol. Dan apa yang harus saya gumamkan kalau ternyata para doktor perakit pesawat itu ternyata tak kuasa membuat transportasi yang lebih primitif dari itu : mobil. Beribu maaf… perakit, ternyata bukan pencipta.

Mungkin malam ini saya tak bisa tidur, ulah mimpi sendiri yang saya buat terlampau fatal. Betul, saya terlanjur bermimpi bahwa seorang pakar adalah seorang yang tiba-tiba saja menyicip segelas ramuan asing, lalu serta-merta menari kegirangan sambil setengah menjerit, “A-ha ! Saya tahu kandungannya dan saya bisa membuat resepnya !”. Ya, dia Sang Koki Agung ! Dia membuat resep… Dia bukan pengemis yang meminta agar koki asing membocorkan rahasia ramuannya. Dia bukan pencuri formula yang mengendap di tengah malam menyelundupkan sebuah paten yang telah dikreasikan oleh orang lain dengan susah-payah. Dan dia pasti bukan tukang sampah yang menerima formula kadaluarsa atas nama belas kasih “alih teknologi”.

Mungkin tak ada yang dapat saya salahkan jika malam ini saya kehilangan selera kantuk. Toh saya hanya ditipu oleh mata dan sangka saya sendiri. Saya kira, jika seorang pemain basket telah begitu mahirnya menyarangkan Slam Dunk ke keranjang lawan, berarti dia adalah pemain basket tingkat atas. Saya hanya terlalu naïf untuk paham bahwa, di negeri ini, ada orang-orang yang telah berlatih Slam Dunk sebelum benar-benar menguasai dasar-dasar bermain basket. Permainan mereka begitu menawan dan akrobatis, namun sekaligus begitu menjengkelkan. Ya… menjengkelkan ! Karena mereka hampir selalu urung mewujudkan target sebuah pertandingan : Kemenangan !!! Sobat teknolog yang budiman, target pertandingan itu kemenangan, bukan Slam Dunk. Apa artinya inovasi, jika bahkan melakukan duplikasi sempurnapun kita belum bisa ???

Telah jam satu malam… Dan mata saya nanar menerawang ke masa silam. Ke kisah seorang teman yang kuliah di Teknik Mesin dan mengambil Tugas Akhir di bidang Mesin Pendingin. Ia lalu bekerja selepas lulus, membawa selembar ijazah dan idealisme : ia ingin alih teknologi. Dan iapun bekerja di sebuah perusahaan AC. Suatu malam nasionalismenya telah menggerakkan tangannya untuk mengambil tindakan heroik. Ia curi sebuah prototip AC dan menyelusupkannya pulang. Tiga tahun ia berburu misteri dan rahasia di lorong-lorong AC itu. Dan pada akhirnya ia menelpon saya, “Aku gagal”. Entahlah, ia telah belajar apa saja selama kuliah. Mungkin belajar mesin, tapi bukan filsafat mesin . Mungkin tentang pendingin, tapi bukan hakekat dingin. Mungkin tentang AC, tapi bukan formulanya. Ah… entahlah…

Seharusnya teman saya berganti nama saja dengan Samsung, industrialis Korea, mungkin guratan tangannya akan berbeda. Tadi siang saya baru saja bertandang ke sebuah lapaknya pada ajang Bazaar Bezar Bezaran di Jakarta Convention Center. Samsung buat dan jual apa saja, dengan cara yang paling memikat : ya mutunya… ya desainnya… ya teknologinya… ya harganya… Ia kompeten di televisi, komputer, printer, kamera, ponsel, tablet PC, dan masih banyak. Hampir saya membeli sebuah netbook keluarannya. Desainnya futuristik, spesifikasinya bersaing dan baterenya tahan 14 jam.

Tapi tidak. Samsung bukan bisa mencipta segalanya. Samsung hanya menguasai elektronika : hanya itu !!! Para koki R & D nya tidak belajar ponsel, atau komputer, atau kamera, atau televisi. Tidak ! Mereka hanya belajar elektronika. Mereka cukup tahu diri dan rendah hati, bahwa mereka harus memulai segalanya dari duplikasi, bukan inovasi. Mereka sadar, jika mereka telah menyadari esensi cukup sekali, maka selanjutnya mereka akan menghasilkan seribu satu turunannya dengan begitu mudah. Dan kuncinya hanya satu, berpikir sederhana : Principle of Parsimony !!! Bukankah ciri seorang pakar sejati adalah seorang yang pemikirannya mudah dimengerti awam ?

Mungkin itu yang dimaksudkan dengan sebuah Center of Excellence. R & D bukanlah sebuah pabrik, dan SDM-nya seharusnya bukan para juru masak. Dia adalah sebuah pusat, dan harus berpikir terpusat, bukan macam-ragam. Center of Excellence seharusnya adalah penghasil brainware, bukan software, apalagi hardware. Software dan hardware adalah ulah kelakuan para pabrikan, bukan ulah perbuatan SDM IPTEK yang berhimpun di R & D. SDM IPTEK Samsung adalah koki pencipta resep dan formula, sedangkan pabrikannya adalah juru masak yang melahirkan produk dan benda. Karena Center of Excellence bukanlah Center of Competence.

Sudahlah… terlalu malam hati ini untuk dibakar cemburu kepada Samsung. Toh wajar, mereka memang lebih dekat dengan biara Shaolin. Mereka mungkin telah belajar sabar untuk menguatkan kuda-kuda tiga tahun lamanya. Mereka, dan hampir seluruh peradaban Asia Timur, adalah orang-orang yang sabar dan pekerja keras. Maka, Jepang lebih memilih Kaizen yang merayap namun pasti (continuous improvement), ketimbang konsep Innovation yang melompat dan meletup. Ya… nun di pertengahan abad ke 19 mereka memilih restorasi (renovasi) bukan inovasi. Sudahlah… toh kita tak sama dengan mereka : mereka sabar, dan kita pengambil jalan pintas.

Tampaknya India pun memilih belajar ke para tetangganya di Timur itu untuk maju menapak. Sebuah dialog dalam film The Three Idiots secara tajam menyiratkan itu : Sebuah kisah tentang Sang Rektor berpendidikan Barat yang dengan bangganya menceritakan tentang inovasi berbiaya 150 Juta Dollar Amerika oleh NASA, agar sebuah pena mampu memuncratkan tintanya di ruang hampa udara antariksa. Namun, Sang “Idiot” India bernama Rancho menampiknya dengan logika sederhana,

“Jika tinta tak memancar di luar angkasa, kenapa tak digunakan pinsil saja ???”.

Ya, yang sering kita lupa, bahwa duplikasipun adalah sebuah langkah awal yang paling cerdas. Dan yang dibutuhkan hanya ini : Sebuah kejeniusan yang idiot !!!

India telah mempersonifikasikan dirinya ke dalam sosok Rancho, yang menertawakan sekian banyak kerumitan, textbooks dan rumus-rumus tanpa hati, lalu menawarkan kesederhanaan.

Menggelisahkan… sementara kita sebagai bangsa justru telah kehilangan daya abstraksi, daya ekstraksi, kemampuan meracik-ramu, atau kecakapan susun-tata, yang merupakan modal dasar untuk menjadi peneliti dan perekayasa. Kita kehilangan imajinasi sejak dini, ketika dongeng telah digusur oleh baca-tulis-hitung di usia TK, padahal itu syarat abstraksi dan formulasi. Kita kehilangan kemampuan mapping, ketika kertas gambar putih telah digantikan begitu cepatnya dengan kertas bergaris, padahal itu modal konstruksi. Kita kehilangan kreativitas, persis saat hak belia kita untuk melakukan deformasi dan “merusak”, digantikan secara kejam oleh format-format kurikulum pembelajaran pra-sekolah yang “santun dan membangun”. Padahal, untuk membangun bumi ini Tuhan sengaja mengutus makhluk perusak : Kita, manusia !!!

Jakarta, Dinihari 10 Maret 2011

Adriano Rusfi

Peneliti SDM

TEKNOLOG ATAU TEKNISI ?

Lewat tengah malam ini saya masih terjaga dari tidur karena larut dalam pemikiran bahwa pada dasarnya negara ini ternyata mengalami kerapuhan konsep dalam penerapan teknologi. Entah saya yang salah dalam memperhatikan teknologi yang ada atau justru saya yang ketinggalan perkembangan tentang teknologi itu sendiri. Entahlah. Tapi yang jelas, sekedar punya kuda-kuda untuk mengambil alih teknologi pun kita tidak mampu. Ya, sekedar kuda-kuda. Hal yang mendasar dan terkadang justru di-skip, tapi sadarilah bahwa komponen ini begitu penting !. Apabila kita menonton film “The American Shaolin”, ilmu pertama yang diajarkan di Biara Silat itu adalah kuda-kuda. Dan itu tiga tahun lamanya, hanya untuk mempelajari kuda-kuda !.

Nafsu tidur saya pun malam ini menghilang, tidak habis pikir. Perkataan dosen saya sore tadi membuat pikiran saya terbang ke suatu dimensi abstrak tanpa batas. Untuk sepersekian detik saya menyesal lahir di negeri ini. Tapi, kemudian saya tersadar bahwa bukan penyesalan yang harus digeluti, tapi saya akan menyelam ke permasalahan yang ada dan mulai menyelesaikannya dari sana. Walaupun pada dasarnya saya belum tahu bagaiman cara untuk menyelesaikannnya sekarang ini. Dosen saya mengatakan bahwasanya predikat Master Teknik di negeri ini hampir pasti (tidak semua) akan terdegradasi statusnya menjadi sama dengan Sarjana Teknik apabila terjun ke dunia industri. Karena tidak ada lowongan kerja untuk lulusan Master di negeri ini. Akibatnya apa yang di dapat oleh pelamar bergelar Master nantinya akan sama saja dengan yang diterima oleh yang bergelar Sarjana. Jangan harap para petinggi perusahaan asing, seperti salah satu perusahaan manufaktur otomotif terbesar di dunia yang memiliki cabang di Indonesia mau mendengar pendapat kita, kecuali anda merupakan individu yang sangat luar biasa. Bahkan pada beberapa perusahaan antara D3 dan S-1 itu tidak ada bedanya. Jadi, apalah gunanya para pemikir dan konseptor teknologi di negeri ini ?. Tetapi sobat, satu hal yang harus diingat : TIDAK ADA ILMU YANG SIA-SIA.

Kegelisahan tengah malam ini seakan tidak ada akhirnya. Bolehkah saya menggugat dan menghujat ?. Bukankan saya hanyalah seorang mahasiswa yang tak berhak menjadi juri atas kompetensi teknologi kita ?. Atau bahkan bukankah teriakan saya ini juga nantinya tidak akan didengar ?. Bahkan seorang pemerhati SDM bernama Adriano Rusfi harus mengutuk keputusannya sendiri setelah menerima tawaran survey tentang SDM PIPTEK di dunia industri kita. Karena survey ‘celaka’ itu menghasutnya untuk menelurkan kesimpulan brutal : SDM PIPTEK industri di negeri ini hampir tidak ada !!!. Hasil itu seperti mengacuhkan ikhtiar jutaan karyawan riset dan teknologi yang telah menghabiskan rupiah dan pengorbanan yang tidak sedikit untuk mengembangkan teknologi di perusahaan masing-masing. Sekilas penilaian hasil survey tersebut memang tidak adil. Tapi, mari kita tinjau apa yang telah dihasilkan oleh para karyawan teknologi alias teknolog tersebut ?. Yang ada hanya para pekerja kreatif dan tukang-tukang berpengalaman yang berhasil mengubah gelas berbibir bulat menjadi segitiga. Atau sekelompok orang yang berkotor-kotor di lapangan pengeboran minyak dan harus siaga 24 jam sehari selama 345 hari per tahun. Apakah itu yang disebut sebagai SDM PIPTEK ?. Mungkin saya salah atau memang saya masih terlalu muda untuk membuat definisi, tetapi bukankan SDM PIPTEK itu seharusnya adalah saintis dan teknolog yang menggunakan seluruh usaha ontologis, epistemoligis dan aksiologis untuk mengambarkan, menjelaskan, meramalkan, mengendalikan dan merekayasa gejala-gejala ilmiah. Bukankah ruang lingkup kerja SDM PIPTEK itu berada pada tahapan conceptual design ?. Atau mungkin saya yang terlalu kolot, sehingga tidak mengikuti perkembangan zaman bahwasanya antara TEKNOLOG dan TEKNISI sebenarnya sama saja. Bahwa antara IMPLEMENTATOR dan OPERATOR bukanlah hal yang penting lagi untuk dibedakan.

Sebagai putra bangsa saya sebenarnya telah berusaha untuk salut dan berjuang untuk bangga atas ‘kemajuan’ teknologi di negeri ini. Lihatlah di pelosok negeri ini telah ada ‘SDM PIPTEK’ yang mampu merubah knalpot sepeda motor tetap bekerja baik di dalam genangan banjir. Di sudut yang lain terdapat sekelompok Doktor yang mampu meningkatkan efisiensi keseluruhan dari suatu turbin di suatu power plant. Namun, semua itu terasa getir ketika menyadari bahwasanya sang modifikator knalpot canggih bahkan tidak mampu menciptakan sebatang knalpot paling generik sekalipun, sepenuhnya dari nol. Dan apa yang harus dikatakan bila ternyata para Doktor inovator turbin tersebut tak kuasa untuk membuat sebuah turbin yang paling sederhana sekalipun. Maaf, perakit ternyata bukan pencipta. Assembler is not Inventor.

“Kunci dari perkembangan teknologi adalah kesederhanaan, kesederhanaan untuk memikirkan bagaimana sesuatu dapat diciptakan sebelum melangkah ke tahapan rekayasa konsep berikutnya”.

Thursday, March 8, 2012

Sebuah Awal : Sarang Laba-Laba, Debu dan Udara Pengap

Keheningan malam mencoba untuk saling berbisik di luar sana, keramaian seakan meninggalkannya mengikuti aturan fungsi waktu. Deru kipas angin yang sudah lama tidak di servis mengiringi malam ini. Dalam kondisi keheningan ini saya mencoba membakar kembali api semangat menulis yang sudah lama padam, seperti suatu hasil pembakaran yang tidak sempurna dimana residu zat padat yang tersisa menghambat semangat untuk menulis ini selama lebih dari satu tahun lamanya. Tapi, malam ini semua itu akan berubah menjadi awal yang baru. Blog ini seakan menyapa saya kembali dengan semua pesona klasiknya untuk menawarkan diri menjadi tempat berbagi cerita dan curahan pikiran saya. Saya pun meresponya dengan prinsip transistor dimana sedikit pemicu aris listrik pada kolektor semangat akan mengelairkan arus pada basis semangat utama ke emitter semangat yang telah lama terputus untuk kembali mendapatkan potensial gairah menulis. Teman semu yang sudah lama tidak bersua kini akan menjadi pendamping sebuah perjalanan penuh tantangan. Setiap tantangan yang akan dipenuhi misteri. Ya, sudah lama saya tidak menulis lagi di blog yang sudah dipenuhi sarang laba-laba, debu dan udara pengap ini. Tapi di waktu yang bersamaan dengan tarian jemari tangan ini saya akan membersihkan semua sarang laba-laba, debu dan udara pengap itu untuk menjadi tempat yang nyaman bagi semua pembaca. Sebuah awal baru tapi lama dari era menulis. Take it to the next level !.

Untuk mengawali rangkaian tulisan yang ada, saya akan memulai dari kekhawatiran saya tentang perkembangan teknologi di negari tercinta ini. Bersandar pada konsep bahwa negara yang maju adalah negara yang memperhatikan perkembangan teknologinya, kita tidak bisa membohongi diri bahwasanya perkembangan teknologi dan kemajuan suatu negara akan membetuk suatu grafik linear. Dalam artian semakin berkembang teknologi di suatu negara, maka potensi negara tersebut untuk maju juga akan membesar. Semua sektor membutuhkan teknologi sebagai bagian fundamentalnya. Tetapi sayangnya realita kondisi perkembangan teknologi yang ada di negeri ini pun pada akhirnya menghasilkan suatu kegelisahan. SEBUAH GELISAH TENTANG TEKNOLOGI. Dengan referensi dari seorang pemerhati SDM bernama Adriano Rusfi saya coba mengupas lebih dalam tentang kegelisahan ini pada trilogi tulisan selanjutnya.

“Teknologi itu ibarat senjata. Dia akan menjadi penyelamat ketika berada di tangan yang benar. Tetapi dia akan menjadi penghancur ketika berada di tangan yang salah. Tabiat adalah hati dari teknologi. Teknologi dengan tabiat buruk adalah kejahatan. Teknologi dengan tabiat baik juga merupakan kejahatan, ketika nilai-niali mulia dari tabiat baik itu hanya tersimpan dikepala tanpa impelementasi nyata”.